Bagikan ke Teman:

 

Hukum Memakai Celana Cingkrang Bagi Pria

Celana cingkrang atau celana yang panjangnya hanya sampai atas mata kaki sering kali dianggap sebagai celana kekecilan, namun di agama Islam memakai celana cingkrang merupakan sunnah yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Yuk baca penjelasan berikut ini untuk mengetahui lebih jauh tentang hukum memakai celana cingkrang.

Hudzaifah bin Al Yaman berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang salah satu atau kedua betisnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak dibenarkan kain tersebut menutupi mata kaki.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah, hal.70, Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini shohih).

Hadits diatas membuktikan jika celana yang dikenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada diatas mata kaki sampai ke bagian tengah betis. Diperbolehkan untuk seseorang menurunkan celananya akan tetapi dengan syarat tidak sampai menutupi mata kaki sebab Nabi Muhammad SAW adalah teladan terbaik untuk umat muslim.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab [60] : 21).

Al Asy’ats bin Sulaim berkata jika ia pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yang berkata, “Ketika saya sedang berjalan di kota Al Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di belakangku berkata, ’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’ Ternyata orang yang berbicara itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata,”Sesungguhnya yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yang bergaris-garis hitam dan putih”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai teladan?” Aku melihat kain sarung beliau, ternyata ujung bawahnya di pertengahan kedua betisnya.”

Pandangan Ibnu Hajar al-Asqalani

Ibnu Hajar di dalam kitabnya Faithul Bari memberi penjelasan dika diperbolehkan memakai celana cingkrang selama tidak diikuti dengan rasa sombong karena menurutnya sifat sombong merupakan taqyid atau syarat ketentuan penetapan dosa untuk pelaku isbal. Walaupun tersirat jika hadits isbal memperlihatkan keharaman, akan tetapi beberapa hadits tersebut juga memperlihatkan adanya taqyid haramnya isbal yang dikarenakan sombong. Selama seseorang tidak sombong walau memakai celana melebihi mata kaki, hal tersebut tidak termasuk haram dan diperbolehkan sehingga penetapan dosa yang berhubungan dengan isbal bergantung pada masalah tersebut.

Pandangan Ibnu Taimiyah

Ibnu Tamiyah juga mengungkapkan hal serupa dengan Syarh al Umdah, beliau berkata jika kebanyakan hadits tentang isbal memuat kata khuyala atau sombong sebagai ketentuan syarat haramnya isbal. Beliau juga memberikan penjelasan jika sudah menjadi hal umum jika isbal merupakan kelakuan yang memperlihatkan kesombongan. Oleh karena itu, hadits yang secara umum hanya menyebutkan sarung atau celana dibawah mata kaki maka memiliki tempat di neraka tanpa menyebutkan taqyid atau sombong sebab sudah menjadi hal umum jika menjulurkan kain adalah tabiat dari orang sombong.
memakai celana melebihi mata kaki hukumnya makruh apabila tidak didasari dengan tujuan sombong. Pada dasarnya, pakaian orang Islam yang beriman adalah setengah betis atau cingkrang. Namun jika ingin memakai yang melebihi maka tidak menjadi masalah asalkan tidak melewati kedua mata kaki karena akan dihukumi isbal dan terkena ancaman seperti beberapa hadits yang sudah diulas diatas. Oleh karena itu, marilah membenahi diri dengan berpakaian seperti orang beriman layaknya perintah Rasulullah SAW dan celana cingkrang bukan kekurangan namun menjadi simbol keimanan dan bukan berarti bid’ah namun ibadah.
Demikian sedikit penjelasan tentang celana cingkrang semoga bermanfaat.

Bagikan ke Teman:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here